Di malam pertama hari yang berbahagia ini aku menangis. Bukan tangis bahagia, tetapi tangis pilu karena tidak ada satu pun keluargaku yang datang ke resepsi pernikahan siang tadi. Tidak juga bapak dan ibuku, karena mereka tidak merestuiku.
Aku benar-benar tidak tahu bagaimana jalan pikiran mereka. Mas Indra adalah pria ketiga yang menjadi korban penolakkan orang tuaku. Yang pertama Mas Andi. Dia sahabat sekaligus kawan kuliah sewaktu di Akademi Farmasi. Kami seumur, lebih tua aku tiga bulan, tetapi otaknya yang brilian benar-benar kuacungi jempol. Waktu wisuda, Indek Prestasi Kumulatif (IPK) nya 3,925 dari standar 4,00 nyaris sempurna sehingga dapat lulus dengan predikat cum laude.
Kematangan dalam bidang intelektual rupanya tidak dibarengi dengan kematangan emosional. Andi cenderung pendiam dan introvert dalam pergaulan. Ketika lulus kuliah serta merta Andi datang ke rumahku menemui orang tuaku dan melamarku.
Hanya berbekal percaya diri tanpa ditemani siapapun Andi bertemu ayah dan ibu. Jangankan beliau, aku pun terkejut bukan kepalang. Tidak ada angin, tidak ada hujan tiba-tiba Andi datang ke rumah sendirian menemui kedua orang tuaku dengan maksud melamarku dan secepatnya mengajakku menikah untuk selanjutnya diajaknya ke Samarinda, tempat Andi dilahirkan dan kediaman keluarga besarnya.
Muka ayahku memerah tetapi tetap tenang, Ibu langsung tampak ketidak setujuannya baik dari raut muka maupun emosi dari kata-katanya yang tidak dapat disembunyikan. Dengan berbagai dalih dan alasan bahwa aku adalah satu satunya anak perempuan, masih terlalu muda dan harapan agar aku melanjutkan kuliah sampai jenjang S-1 akhirnya ayahku menolak. Andi kecewa dan sedih berat dan setelah itu tidak pernah nampak batang hidungnya. Kabar angin yang aku terima dari kawan-kawan Andi pulang kampung di Samarinda dan melalui email yang ku dapat darinya dia akhirnya menikah dengan gadis Samarinda yang masih ada hubungan kerabat jauh dan membuka toko obat disana.
“Anak tidak tahu etiket, tata krama dan sopan santun!” kata ayah kepadaku setelah Andi pulang dengan kecewa ketika lamaran ditolak. “Memangnya perkawinan itu hanya main-main?”lanjutnya.
Aku diam dan tertunduk tidak tahu mesti apa yang akan aku jawab. Dengan Andi kuakui aku sangat akrab tetapi wajar karena sebagai seorang muslimah aku sangat menjaga jarak dengan lelaki yang bukan muhrim. Tetapi di dalam institusi sekolah yang bercampur antara laki-laki dan perempuan seperti Akademi Farmasi aku tidak mungkin untuk berteman hanya dengan kaum hawa, bahkan karena sifatku yang cenderung tomboy justru aku mempunyai banyak kawan dari jenis laki-laki.
Dengan Andi kuakui aku memang akrab lebih daripada yang lainnya. Itu karena otak Andi yang cemerlang dan kepribadiannya yang cenderung introvert sehingga dalam bersahabat kepadaku dia lebih suka menyimak aku berbicara dan hanya sedikit memberikan komentar dan tidak menggurui tetapi mengena pada sasaran.
Sedangkan aku? Kata kawan-kawan aku orangnya ceriwis, banyak komentar tetapi paling tidak suka dikomentari. Tetapi pada dasarnya aku orangnya supel, mudah bergaul kepada siapa saja sehingga banyak mempunyai kawan dari segala tingkatan, baik kepada adik tingkat, kakak tingkat maupun hampir semua dosen yang mengajar kuliah.
Kenekatan Andi untuk datang sendiri melamar kepada orang tuaku tanpa berkonsultasi dulu denganku membuatku terharu tetapi tata krama dan adat istiadat yang dilanggarnya menjadikan semua yang direncanakannya hilang tak berbekas.
Beberapa hari aku terpukul, banyak hal yang kupikirkan. Mengapa Andi mau melamarkau tetapi tidak pernah berkonsultasi denganku. Dalam bersahabat jangankan bicara soal cinta, menjurus-jurus pembicaraan ke arah itu pun tidak pernah. Bahkan Andi tidak pernah sekalipun datang ke rumahku selama kami kuliah selama tiga tahun.
Hari berganti, setahun telah berlalu, bayangan Andi sedikit demi sedikit telah hilang dalam benakku. Kesibukan kerja sebagai seorang asisten apoteker di salah satu apotik telah benar-benar menyita waktu dan tenagaku. Ketika sampai di rumah hanya keletihan yang ku dapat. Hampir tidak ada waktu yang tersisa di rumah yang bisa kugunakan untuk bersantai.
Bulan berganti dan tanpa terasa sudah lima tahun aku melupakan Andi. Semenjak Andi pulang ke kampungnya sudah beberapa tempat kerja yang aku jalani. Karena menganggur akhirnya aku ditawari menjaga konter HP punya tetangga yang baik hati sambil disarankan untuk melamar kerja di tempat yang sesuai dengan pendidikan. Enam bulan menjaga konter HP akhirnya aku diterima di sebuah rumah sakit swasta sebagai asisten apoteker di apotik milik rumah sakit tersebut.
Rutinitas kerja sebagai asisten apoteker sebuah rumah sakit swasta yang cukup ramai membuatku melupakan segalanya. Tanpa terasa sudah lebih dari lima tahun atau hampir enam tahun semenjak aku selesai kuliah yang berarti semenjak lamaran Andi aku masih melajang.
***
Pria yang kedua yang ku kenal bernama Wismoyo seorang salesman obat-obatan (detailer) biasa kupanggil Mas Wis. Ketika memanggil Mas Wis terkadang aku tidak bisa menahan senyum geli karena arti wis yang dalam bahasa Jawa dalam bahasa Indonesia adalah sudah. Biasanya Mas Wis hanya tersenyum dan dengan terkadang kembali meledekku dengan bahasa Bugis dialek Jawa sebagai pembelaan karena tahu aku adalah keturunan Bugis. Kalimat itu selalu diulang-ulang karena perbendaharaan kata-kata Bugis nya sangat terbatas. Selebihnya orangnya sangat formal tidak banyak basa-basi.
Aku dan Mas Wis hanya kenal sebatas di kantor saja, tidak lebih dan tidak kurang. Mas Wis biasa menawarkan obat-obatan yang menjadi barang dagangannya sementara aku adalah petugas yang menerima, memeriksa dan membayar apa yang menjadi haknya. Pembicaraan kami sangatlah formal walaupun Mas Wis berusaha memancing-mancing bicara pribadi. Tetapi dengan profesional pembicaraanku selalu dapat kualihkan untuk sekedar berbicara masalah pekerjaan.
Kelihaian Mas Wis berbicara masalah obat-obatan ternyata tidak bisa mengalihan dengan pembicaraan pribadi. Aku tahu Mas Wis sangat suka padaku tetapi apa peduliku? Jujur saja aku suka juga dengan dia tetapi aku trauma dengan orang tuaku. Aku takut kejadian akan berulang. Aku takut mengecewakannya dan aku juga takut hatiku kecewa untuk kedua kalinya.
Bukannya sales kalau cepat menyerah dengan keadaan. Sambil menyerahkan barang pesanan suatu saat Mas Wis menyertakan juga sebuah amplop putih ber kop perusahaan tempat Mas Wis bekerja yang di lem rapi ditujukan jelas kepadaku dengan diketik rapi dengan komputer sangat formal khas surat kantor. Seperti biasanya dengan ramah Mas Wis hanya mengatakan “Ini adalah sebuah penawaran untuk dapat dipertimbangkan, jawabannya ditunggu!” ada nada penegasan dalam kata-kata terakhirnya sebelum permisi untuk kembali menawarkan obat dagangannya ke apotik lainnya.
Tanpa firasat apa-apa aku cuma mengucapkan terima kasih dan seperti biasa amplop aku letakkan di meja kerja untuk dibaca setelah waktu senggang usai menyusun obat-obatan dan meracik obat obatan yang ada di resep.
***
Besoknya ketika sampai di kantor, Pak Eko office boy kantor mendatangiku. “Mbak Santi, kemarin malam ada telepon dari Pak Herman katanya pimpinannya Pak Wismoyo.”
“Apa katanya Pak?” kataku kepada Pak Eko sebelum dia sempat menyelesaikan kalimatnya.
“Anu Mbak... Kata Pak Herman, staf nya yang bernama Wismoyo kemarin kecelakaan dan meninggal dunia.” Lanjut Pak Eko.
“Kenapa Bapak tidak telefon aku Pak?” kataku kepada Pak Eko.
“Sudah ku telepon HP Mbak tapi tidak aktif, terus telpon ke rumah Mbak tapi nadanya tuliiit gitu lho Mbak? Tapi tadi pagi Pak Herman telepon lagi katanya jenazah Pak Wismoyo langsung diterbangkan ke kota asalnya di Solo pagi ini dengan pesawat jam 7 tadi mbak!” lanjut Pak Eko dengan nada menyesal.
Kulihat jam di pergelangan tanganku. Waktu menunjukkan jam 8.15 berarti pesawat sudah berangkat lebih dari sejam yang lalu. Ada sesal di hatiku kenapa HP mesti kumatikan dan kenapa pula aku lupa menonaktifkan mode faximile telefon rumahku sehingga seorang rekan kerja dan bisa dibilang sahabat walau kami hanya bertemu di kantor dengan perkataan yang cuma formal-formal saja tidak bisa melihat jenazahnya untuk yang terakhir kalinya.
Aku teringat surat bersampul putih darinya. Penawaran apakah gerangan yang ditawarkannya? Kemarin aku lupa untuk membukanya. Dengan bergetar kuambil surat bergaya formal di dalam laci meja kerja. Ada rasa getar dan penyesalan mengapa harus melupakan surat dari almarhum Mas Wis yang sekarang kupegang.
Amplop luar nampak formal, tetapi ketika ku buka ada selembar kertas surat biru muda dengan tulisan tangan menggunakan tinta biru, mengingatkannku masa-masa SMA dulu waktu menulis surat kepada kekasih. Sekarang model surat-suratan sudah tidak berlaku. SMS telah menggantikannya.
Kepada Yts.
Adik Santi
Di
Tempat.
Adik Santi...
Aku mohon maaf yang sebesar-besarnya karena telah lancang menulis surat kepadamu. Ini kulakukan karena terus terang diam-diam aku menyukaimu.
Aku selalu ditelefon ibuku yang menanyakan apakan aku sudah punya “calon” di Jambi. Kalau sudah punya calon ibu menyarankan aku segera saja melangsungkan pernikahan untuk menghindari fitnah dan melakukan perbuatan dosa.
Terus terang dik, aku sampai saat ini ............................
Mata Santi berlinang, pandangan kabur dan gelap