Jumat, 31 Oktober 2008

USAHAKU

BINATU / LAUNDRY(KILOAN) ++
W&W Londree
Jl. Ir. H. Juanda No.77A Simpang Tiga Sipin, Mayang - Jambi
Telp. (0741) 7140090 , 7141799 Fax. (0741) 65466

Bagi anda warga kota Jambi yang sibuk sehingga tidak sempat mencuci baju tidak usah khawatir lagi jika pakaian kotor anda bertumpuk.

KAMI PUNYA SOLUSINYA
Cuci saja dengan menggunakan Laundry Kiloan ditempat kami karena kami memberikan pelayanan PLUS - PLUS.
PLUS pakaian anda dicuci dengan mesin cuci terpisah dengan pelanggan lainnya,
PLUS pewangi dan softener berkualitas baik
PLUS digosok oleh tenaga profesional
PLUS penimbangan akurat untuk memudahkan pengukuran timbangan maka bisa dilakukan dengan dua cara yaitu: sebelum mencuci dan sesudah mencuci pakaian sehingga anda yang mempunyai pakaian kotor basah tidak perlu merasa rugi untuk mencuci di tempat kami.
PLUS antar jemput (pick-up/delivery ) bagi anda untuk cucian diatas 5Kg.
PLUS ketepatan waktu (ekspress max 24 Jam, standar max 3 hari)
Bagi anda yang tidak berlangganan cukup membayar Rp 6.000,-/kg
Anda antar pakaian kotor bertumpuk, kami akan cuci dan gosok pakaian anda sehingga menjadi bersih, higienis, lembut dan terlipat secara rapi ketika anda menerimanya.
Tersedia paket 20kg/bln hanya dengan Rp 115.000,-
Layanan paket 35kg/bln hanya dengan Rp 190.000,-
Layanan paket 50kg/bln hanya dengan Rp 250.000,-
Info Waralaba
Anda ingin mempunyai usaha laundry atau usaha lain di daerah anda? Team kami bisa membantu mewujudkan mimpi anda menjadi pengusaha dalam waktu singkat.
Kami mempunyai skema pembukaan usaha baik sebagai konsultan maupun waralaba.
Info lebih lanjut dapat hubungi kami
WAHYU DEWANTO

Telp. 0741 - 7140090, 7141799 SMS : 085 764 253 666 Facs : 0741 – 65466

RIWAYAT HIDUP

Nama : Wahyu Dewanto,S.IP
Tempat / Tgl. Lahir : Semarang / 17 Maret 1966
Alamat : Jl. Kemboja No.12 Beliung Indah – Jambi
Pendidikan :
SD Yos Sudarso, Semarang 1980
SMP Negeri 8 Semarang 1983
SMA Negeri 4 Semarang 1986
Universitas Sumatera Utara - Medan, FISIP Antropologi 1986 – 1989
Universitas Terbuka – Jakarta, FISIP Administrasi Niaga 1997
Pengalaman Kerja :
Harian Independent, Jambi 1992-1993 – Wartawan
PT. Kerinci Permata Motor, Jambi 1993 – 1994 – Salesman
PT. Agung Automall, Jambi 1994 – Salesman
PT. Citra Sipin, Jambi 1995 – 1996 Sales Supervisor
PT. Nugraha Selaras Express, Jambi 1996 - 1997 – Branch Manager
Sinar Jambi Baru, Jambi 1997 – Redaktur Pelaksana
Agenda Rakyat 1998 – Pemimpin Redaksi
CV. Bintang Bima Utama – Direktur
PT. Aswad Interagency – Komisaris
PT. Swarna Bhakti Sejahtera – Presiden Direktur
W&W Kreatif – Pemilik Toko Bunga dan Pupuk
Aswad Learning Centre – Kursus Bahasa Arab
Pondok Steak APMI - Komisaris
W&W Londree - Pemilik Jasa Laundry
Organisasi :
Masjid Al-Amien Komplek Beliung Indah – Koordinator Bidang Pendidikan
Hidayatullah DPW Jambi – Ketua Bidang Dakwah
Ghoib Ruqyah Syar’iyyah Jambi
Yayasan Bimasakti – Bendahara
Ketua Alumni APMI Angkatan I
Keluarga :
Istri : Dra. Wiwik Yuswani
Anak : M. Bintang Bimantara

Kamis, 23 Oktober 2008

INDOSAT BLOG CONTEST

">http://fpdownload.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,0,0" width="500" height="125" align="middle"> http://www33.websamba.com/indosatblog/Tbanner3.swf?xml_path=http://www33.websamba.com/indosatblog/Bannerblog.xml" /> http://www33.websamba.com/indosatblog/Tbanner3.swf?xml_path=http://www33.websamba.com/indosatblog/Bannerblog.xml" quality="high" width="500" height="125" align="middle" allowScriptAccess="sameDomain" type="application/x-shockwave-flash" pluginspage="http://www.macromedia.com/go/getflashplayer" />
Indosat Blog Contest (SinyalKuat.co.cc)





CERPEN

Di malam pertama hari yang berbahagia ini aku menangis. Bukan tangis bahagia, tetapi tangis pilu karena tidak ada satu pun keluargaku yang datang ke resepsi pernikahan siang tadi. Tidak juga bapak dan ibuku, karena mereka tidak merestuiku.

Aku benar-benar tidak tahu bagaimana jalan pikiran mereka. Mas Indra adalah pria ketiga yang menjadi korban penolakkan orang tuaku. Yang pertama Mas Andi. Dia sahabat sekaligus kawan kuliah sewaktu di Akademi Farmasi. Kami seumur, lebih tua aku tiga bulan, tetapi otaknya yang brilian benar-benar kuacungi jempol. Waktu wisuda, Indek Prestasi Kumulatif (IPK) nya 3,925 dari standar 4,00 nyaris sempurna sehingga dapat lulus dengan predikat cum laude.

Kematangan dalam bidang intelektual rupanya tidak dibarengi dengan kematangan emosional. Andi cenderung pendiam dan introvert dalam pergaulan. Ketika lulus kuliah serta merta Andi datang ke rumahku menemui orang tuaku dan melamarku.

Hanya berbekal percaya diri tanpa ditemani siapapun Andi bertemu ayah dan ibu. Jangankan beliau, aku pun terkejut bukan kepalang. Tidak ada angin, tidak ada hujan tiba-tiba Andi datang ke rumah sendirian menemui kedua orang tuaku dengan maksud melamarku dan secepatnya mengajakku menikah untuk selanjutnya diajaknya ke Samarinda, tempat Andi dilahirkan dan kediaman keluarga besarnya.

Muka ayahku memerah tetapi tetap tenang, Ibu langsung tampak ketidak setujuannya baik dari raut muka maupun emosi dari kata-katanya yang tidak dapat disembunyikan. Dengan berbagai dalih dan alasan bahwa aku adalah satu satunya anak perempuan, masih terlalu muda dan harapan agar aku melanjutkan kuliah sampai jenjang S-1 akhirnya ayahku menolak. Andi kecewa dan sedih berat dan setelah itu tidak pernah nampak batang hidungnya. Kabar angin yang aku terima dari kawan-kawan Andi pulang kampung di Samarinda dan melalui email yang ku dapat darinya dia akhirnya menikah dengan gadis Samarinda yang masih ada hubungan kerabat jauh dan membuka toko obat disana.

“Anak tidak tahu etiket, tata krama dan sopan santun!” kata ayah kepadaku setelah Andi pulang dengan kecewa ketika lamaran ditolak. “Memangnya perkawinan itu hanya main-main?”lanjutnya.

Aku diam dan tertunduk tidak tahu mesti apa yang akan aku jawab. Dengan Andi kuakui aku sangat akrab tetapi wajar karena sebagai seorang muslimah aku sangat menjaga jarak dengan lelaki yang bukan muhrim. Tetapi di dalam institusi sekolah yang bercampur antara laki-laki dan perempuan seperti Akademi Farmasi aku tidak mungkin untuk berteman hanya dengan kaum hawa, bahkan karena sifatku yang cenderung tomboy justru aku mempunyai banyak kawan dari jenis laki-laki.

Dengan Andi kuakui aku memang akrab lebih daripada yang lainnya. Itu karena otak Andi yang cemerlang dan kepribadiannya yang cenderung introvert sehingga dalam bersahabat kepadaku dia lebih suka menyimak aku berbicara dan hanya sedikit memberikan komentar dan tidak menggurui tetapi mengena pada sasaran.

Sedangkan aku? Kata kawan-kawan aku orangnya ceriwis, banyak komentar tetapi paling tidak suka dikomentari. Tetapi pada dasarnya aku orangnya supel, mudah bergaul kepada siapa saja sehingga banyak mempunyai kawan dari segala tingkatan, baik kepada adik tingkat, kakak tingkat maupun hampir semua dosen yang mengajar kuliah.

Kenekatan Andi untuk datang sendiri melamar kepada orang tuaku tanpa berkonsultasi dulu denganku membuatku terharu tetapi tata krama dan adat istiadat yang dilanggarnya menjadikan semua yang direncanakannya hilang tak berbekas.

Beberapa hari aku terpukul, banyak hal yang kupikirkan. Mengapa Andi mau melamarkau tetapi tidak pernah berkonsultasi denganku. Dalam bersahabat jangankan bicara soal cinta, menjurus-jurus pembicaraan ke arah itu pun tidak pernah. Bahkan Andi tidak pernah sekalipun datang ke rumahku selama kami kuliah selama tiga tahun.

Hari berganti, setahun telah berlalu, bayangan Andi sedikit demi sedikit telah hilang dalam benakku. Kesibukan kerja sebagai seorang asisten apoteker di salah satu apotik telah benar-benar menyita waktu dan tenagaku. Ketika sampai di rumah hanya keletihan yang ku dapat. Hampir tidak ada waktu yang tersisa di rumah yang bisa kugunakan untuk bersantai.

Bulan berganti dan tanpa terasa sudah lima tahun aku melupakan Andi. Semenjak Andi pulang ke kampungnya sudah beberapa tempat kerja yang aku jalani. Karena menganggur akhirnya aku ditawari menjaga konter HP punya tetangga yang baik hati sambil disarankan untuk melamar kerja di tempat yang sesuai dengan pendidikan. Enam bulan menjaga konter HP akhirnya aku diterima di sebuah rumah sakit swasta sebagai asisten apoteker di apotik milik rumah sakit tersebut.

Rutinitas kerja sebagai asisten apoteker sebuah rumah sakit swasta yang cukup ramai membuatku melupakan segalanya. Tanpa terasa sudah lebih dari lima tahun atau hampir enam tahun semenjak aku selesai kuliah yang berarti semenjak lamaran Andi aku masih melajang.

***

Pria yang kedua yang ku kenal bernama Wismoyo seorang salesman obat-obatan (detailer) biasa kupanggil Mas Wis. Ketika memanggil Mas Wis terkadang aku tidak bisa menahan senyum geli karena arti wis yang dalam bahasa Jawa dalam bahasa Indonesia adalah sudah. Biasanya Mas Wis hanya tersenyum dan dengan terkadang kembali meledekku dengan bahasa Bugis dialek Jawa sebagai pembelaan karena tahu aku adalah keturunan Bugis. Kalimat itu selalu diulang-ulang karena perbendaharaan kata-kata Bugis nya sangat terbatas. Selebihnya orangnya sangat formal tidak banyak basa-basi.

Aku dan Mas Wis hanya kenal sebatas di kantor saja, tidak lebih dan tidak kurang. Mas Wis biasa menawarkan obat-obatan yang menjadi barang dagangannya sementara aku adalah petugas yang menerima, memeriksa dan membayar apa yang menjadi haknya. Pembicaraan kami sangatlah formal walaupun Mas Wis berusaha memancing-mancing bicara pribadi. Tetapi dengan profesional pembicaraanku selalu dapat kualihkan untuk sekedar berbicara masalah pekerjaan.

Kelihaian Mas Wis berbicara masalah obat-obatan ternyata tidak bisa mengalihan dengan pembicaraan pribadi. Aku tahu Mas Wis sangat suka padaku tetapi apa peduliku? Jujur saja aku suka juga dengan dia tetapi aku trauma dengan orang tuaku. Aku takut kejadian akan berulang. Aku takut mengecewakannya dan aku juga takut hatiku kecewa untuk kedua kalinya.

Bukannya sales kalau cepat menyerah dengan keadaan. Sambil menyerahkan barang pesanan suatu saat Mas Wis menyertakan juga sebuah amplop putih ber kop perusahaan tempat Mas Wis bekerja yang di lem rapi ditujukan jelas kepadaku dengan diketik rapi dengan komputer sangat formal khas surat kantor. Seperti biasanya dengan ramah Mas Wis hanya mengatakan “Ini adalah sebuah penawaran untuk dapat dipertimbangkan, jawabannya ditunggu!” ada nada penegasan dalam kata-kata terakhirnya sebelum permisi untuk kembali menawarkan obat dagangannya ke apotik lainnya.

Tanpa firasat apa-apa aku cuma mengucapkan terima kasih dan seperti biasa amplop aku letakkan di meja kerja untuk dibaca setelah waktu senggang usai menyusun obat-obatan dan meracik obat obatan yang ada di resep.

***

Besoknya ketika sampai di kantor, Pak Eko office boy kantor mendatangiku. “Mbak Santi, kemarin malam ada telepon dari Pak Herman katanya pimpinannya Pak Wismoyo.”

“Apa katanya Pak?” kataku kepada Pak Eko sebelum dia sempat menyelesaikan kalimatnya.

“Anu Mbak... Kata Pak Herman, staf nya yang bernama Wismoyo kemarin kecelakaan dan meninggal dunia.” Lanjut Pak Eko.

“Kenapa Bapak tidak telefon aku Pak?” kataku kepada Pak Eko.

“Sudah ku telepon HP Mbak tapi tidak aktif, terus telpon ke rumah Mbak tapi nadanya tuliiit gitu lho Mbak? Tapi tadi pagi Pak Herman telepon lagi katanya jenazah Pak Wismoyo langsung diterbangkan ke kota asalnya di Solo pagi ini dengan pesawat jam 7 tadi mbak!” lanjut Pak Eko dengan nada menyesal.

Kulihat jam di pergelangan tanganku. Waktu menunjukkan jam 8.15 berarti pesawat sudah berangkat lebih dari sejam yang lalu. Ada sesal di hatiku kenapa HP mesti kumatikan dan kenapa pula aku lupa menonaktifkan mode faximile telefon rumahku sehingga seorang rekan kerja dan bisa dibilang sahabat walau kami hanya bertemu di kantor dengan perkataan yang cuma formal-formal saja tidak bisa melihat jenazahnya untuk yang terakhir kalinya.

Aku teringat surat bersampul putih darinya. Penawaran apakah gerangan yang ditawarkannya? Kemarin aku lupa untuk membukanya. Dengan bergetar kuambil surat bergaya formal di dalam laci meja kerja. Ada rasa getar dan penyesalan mengapa harus melupakan surat dari almarhum Mas Wis yang sekarang kupegang.

Amplop luar nampak formal, tetapi ketika ku buka ada selembar kertas surat biru muda dengan tulisan tangan menggunakan tinta biru, mengingatkannku masa-masa SMA dulu waktu menulis surat kepada kekasih. Sekarang model surat-suratan sudah tidak berlaku. SMS telah menggantikannya.

Kepada Yts.

Adik Santi

Di

Tempat.

Adik Santi...

Aku mohon maaf yang sebesar-besarnya karena telah lancang menulis surat kepadamu. Ini kulakukan karena terus terang diam-diam aku menyukaimu.

Aku selalu ditelefon ibuku yang menanyakan apakan aku sudah punya “calon” di Jambi. Kalau sudah punya calon ibu menyarankan aku segera saja melangsungkan pernikahan untuk menghindari fitnah dan melakukan perbuatan dosa.

Terus terang dik, aku sampai saat ini ............................

Mata Santi berlinang, pandangan kabur dan gelap